Poetic for my Friend (yang cintanya bertepuk sebelah tangan)

Pujaan hatiku,

Hatiku sungguh-sungguh tertuju padamu

Seluruh perasaanku berlari mengikutimu

Mulutku setiap hari menceritakan keindahanmu

Telingaku kuarahkan dimana engkau berada

Semerbak wangimu selalu kucari

Mataku dibutakan oleh cintaku padamu

Bahkan,

kini darahku membawa namamu

dan memacu jantungku disetiap aku memikirkanmu

Pujaan hatiku,

engkau bagaikan kebun anggur

setiap hari,

selalu tumbuh tunas daun kecantikan

aku terpesona dengan indah pokok batangmu

dan terkagum dengan kuat akar-akar tingkahmu

dan selalu dipenuhi buah-buah kebaikan

yang selalu menarik kesegarannya

aku bernyanyi,

mana ada kebun anggur lain seindah dirimu

Ah,

sungguh aku dibutakan oleh cintaku padamu

…….

Tetapi,

hatiku berkata

sungguh beruntung pemilik kebun anggur itu

yang menyirami dengan air kasih

memupuk cinta setiap hari

menikmati buah-buah kebaikanmu setiap waktu

dan selalu dinaungi keindahan daunmu

…….

Ah,

seandainya,

datang waktuku

kebun itu menjadi bagianku

meskipun

dengan peluh yang deras

aku mencangkul

menanamkan pupuk cintaku

tulang-tulangku menyangga batang keindahanmu

kulitku menyelimuti buah-buahmu

sekiranya ada petani lain

yang menginginkanmu

akan kulakukan

untuk memiliki

kebun anggur pujaanku

Tetapi kapankah waktu itu datang…

Hatiku mulai curang,..

Ah seandainya,

aku boleh merawatmu

hanya di malam hari pun

tak mengapa

meskipun aku ditempat kedua

untuk menikmatimu

asalkan aku bisa

memiliki kebun anggur pujaanku

sungguh gila aku ini,..

Hatiku mulai gelisah,..

hatiku mulai menawar,

kalau boleh,

sehari saja,

satu jam saja,

ataupun satu detik saja,

aku boleh memiliki kubun anggur pujaanku

akan kuberikan yang terbaik

yang termanis

untuk pohon pujaanku

dan kuukir dibatangmu

nama-nama cinta

supaya

engkaupun tumbuh indah

juga karena kasihku padamu

meski hanya sesaat,

aku turut menjadi rasa manis

dalam buah-buahmu

dan daun-daunmu menari-nari karena

keceriaanku didekatmu

…….

Ah, sudahlah hatiku

cukuplah berandai-andai

puaskanlah dengan khayalan saja

akankah

kita menunggu hatiku,

waktu yang tidak kita tahu.

Sudahlah mataku,

bukalah kelopakmu

pandanglah sekelilingmu

terbentang ladang-ladang hijau

………

Ah,

Akankah kupadamkan api cintaku

pada pujaan hatiku

atau mematikan segala rasa yang tertuju

padamu pujaan hatiku

Ah,…..

Tinggalkan Balasan